Selasa, 05 Oktober 2010

Seribu Masjid Hanya Satu Jumlahnya

Masjid itu dua macamnya
Satu Ruh, lainnya badan.
Satu diatas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunya
Kalau Ruh ditindas, Masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, Masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata & logam
Lainnya tak terperi
Karena Sejati



Masjid batu bata
Berdiri dimana-mana
Masjid Sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada & tiada

Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat Sukma
Membisikkan asma Allah Ta'ala
Kita diajari tuk mengenalinya

Di dalam Masjid batu bata
Kita melangkah masuk, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki Masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Tubuh kita bertakbir
Ruh mengagumi-nya tanpa suara
Ruh bersembahyang tanpa gerak
Menjerit dengan mulut sunyi

Sangat mahal biaya Masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun Masjid Ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena Asma-nya selalu kita zikirkan

Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, berterbangan gentingnya
Oleh gempa bumi ambruk dindingnya

Masjid Ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya

Masjid Ruh kita bawa ke mana-mana
Ke sekolah,ke tempat kerja, pasar...
Kita bawa naik sepeda, mobil, berjejal di bis kota
Tanpa seorangpun sanggup mencopetnya

Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang Masjid Ruh di dada adalah Cakrawala
Cengkraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab Masjid Ruh adalah semesta raya

Jika kita berumah di Masjid Ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-nya
Mereka menembak hanya bayangan kita

Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan

Adapun Masjid Ruh justru yang mengangkut kita
Melampaui ujung waktu nun jauh di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap keharibaan cinta-Nya

Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya Masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala

Tetapi mereka yang sombong dengan Masjid kedua
Berkeliaran sebagai Ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan

Maka bagi orang yang waspada
Dua Masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan Hakikat
Menyatu dalam Tarekat menuju Makrifat

Bahkan seribu Masjid, sejuta Masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwwah Islamiyyah

Sesekali kita pertengkarkan soal Bid'ah
Atau jumlah roka'at sebuah sholat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan-nya kembali

Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan yang lain
Itu namanya belajar mendewasakan Khilafah
Sambil menggali penemuan model Imamah

Seribu Masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan

Seribu orang mendirikan satu Masjid badan
Satu orang membangun seribu Masjid Ruh
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan Kawruh

Seribu Masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan

Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar Nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan

By.Emha Ainun Najib


Senin, 04 Oktober 2010

Do'a Pesakitan


GUSTI,
seperti kapan saja kami para hamba
tak berada di mana-mana melainkan di hadapanMu jua
ini sangat sederhana tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuhMu yang kecil saja,
kami tak kuasa

GUSTI,
inilah tawananMu tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya dengan hanya menatap hal-hal maya

GUSTI,
cinta kami kepada Mu tak terperi
namun itu tak diketahui oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut namaMu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dariMu takkan tertandingi

GUSTI,
kami berkumpul disini untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dariMu agar jadi bening dan tahu malu

GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun sebab rahasiaMu agung
tak ada apa-apa yang penting dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari untuk melihat telapak kaki siapa yang paling dulu
menginjak halaman rumahMu

GUSTI,
lihatlah mulut kami fasih otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes bersujud bagai para malaikatMu
namun saksikan adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu a
rah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami kepada kasih cinta penciptaanMu?

GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus tapi betapa rahmat Mu
tak putus-putus kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

GUSTI,
kamilah pesakitan di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami dan jangan biarkan terlalu lama menanti

(EMHA AINUN NADJIB – 1981)